Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Pos dan logistik Kritik Tol dan Laut

Tol Laut merupakan program pemerintah untuk menanggulangi kesenjangan harga di daerah terluar juga mendapat kritik dari pelaku usaha logistik. Hal tersebut disampaikan Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) Jateng. Mereka menyebut hingga kini belum pernah diajak koordinasi terkait pelaksanaan tol laut.

“Kami sebagai stakeholder logistik belum pernah diajak bicara, apalagi memanfaatkan tol laut, ini sebenarnya ironi ya karena tol laut itu sangat erat kaitannya dengan logistik,” terang Ketua Asperindo Jateng, Tony Winarno. Hal itu menurutnya cukup disayangkan karena potensi provinsi di tengah Pulau Jawa itu cukup tinggi dibidang komoditas pakaian jadi dan produk dari kayu.

Jasa Pengiriman Ekspress Pos dan logistik Kritik Tol dan Laut

Padahal rute Semarang-Kumai, atau Semarang-Makasar itu sangat ramai bila dilihat dari sisi logistik. Tapi ya itu kita nggak pernah diajak bicara soal tol laut jadi ya nggak bisa apa-apa saat ini mengandalkan apa yang ada saja,” terangnya lebih lanjut. Menurutnya jika dilihat dari kondisi geografis Indonesia yang 3/4 persennya adalah lautan maka jika tol laut ini dikelola lebih baik lagi bukan tidak mungkin bisa menjadi sarana logistik ekspress.

“Sekarang sebaiknya disosialisasikan dahulu ke stakeholder yang lebih banyak lagi. Semua, mulai stakeholder forwarder, inline atau ecommerce, sampai seksrang kami belum dengar itu,” pungkas Tony. Sementara, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Nofrisel mengatakan, penerapan tarif di sepanjang Tol Trans Jawa berpengaruh signifikan terhadap struktur pengeluaran perusahaan truk. Dibandingkan melalui jalur tol, para pengusaha truk pun lebih memilih untuk lewat jalur Pantura, dikarenakan lebih murah daripada supir logistic melewati jalur tol.
Para pengusaha pun mengeluhkan mahalnya tarif tersebut kepada Menterepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Pasalnya, pemerintah tengah berupaya meningkatkan kinerja logistik dalam negeri untuk mendorong ekspor. Adapun Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan, tak hanya soal tarif tol dan kargo pesawat ada permalahan lain yang dikeluhkan oleh para pengusaha, yaitu banyaknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga menciptakan jasa logistik. “Banyak BUMN yang menciptakan jasa logistik yang bersaingan dengan industri swasta,” terang Mahendra